Lewati ke konten
SEBERKAS ILMU

Cara Menyusun Bab I Skripsi (Pendahuluan) Lengkap dengan Contoh

Bagikan ke WhatsApp

Judul sudah dipilih di bagian 1, metode sudah ditentukan di bagian 2. Sekarang saatnya mulai menulis. Bab pertama yang disusun adalah Bab I Pendahuluan.

Bab I sering menjadi bab yang paling lama direvisi, karena di sinilah Anda harus meyakinkan pembaca bahwa masalah yang diteliti nyata, penting, dan layak dijawab. Jika Bab I kuat, bab-bab berikutnya akan lebih mudah mengikuti.

Di artikel ini kita bahas fungsi setiap subbab, cara menyusunnya, lalu contoh Bab I lengkap untuk judul seri ini:

Pengaruh Media Pembelajaran Video Animasi terhadap Hasil Belajar IPAS Siswa Kelas V Sekolah Dasar

1. Struktur Bab I

Susunan Bab I berbeda sedikit di setiap kampus, tetapi umumnya terdiri dari tujuh subbab berikut.


  • 1.1 Latar Belakang Masalah: alasan mengapa penelitian ini perlu dilakukan.
  • 1.2 Identifikasi Masalah: daftar masalah yang muncul dari latar belakang.
  • 1.3 Batasan Masalah: bagian masalah yang benar-benar diteliti.
  • 1.4 Rumusan Masalah: pertanyaan penelitian yang akan dijawab.
  • 1.5 Tujuan Penelitian: apa yang ingin dicapai, selaras dengan rumusan masalah.
  • 1.6 Manfaat Penelitian: kegunaan hasil penelitian secara teoretis dan praktis.
  • 1.7 Sistematika Penulisan: gambaran singkat isi setiap bab.

Beberapa kampus menambahkan Definisi Operasional atau Asumsi Penelitian, dan ada yang menghapus Sistematika Penulisan. Selalu ikuti buku pedoman skripsi di kampus Anda.

2. Latar belakang: gunakan teknik corong

Latar belakang adalah bagian terpanjang dan tersulit di Bab I. Kesalahan yang paling sering terjadi:

  • langsung bercerita tentang solusi tanpa menunjukkan masalahnya,
  • terlalu banyak teori tetapi tidak ada data lapangan,
  • kutipan berderet tanpa dihubungkan satu sama lain,
  • tidak jelas di mana kesenjangannya.

Cara paling mudah adalah teknik corong: mulai dari hal yang luas, lalu menyempit sampai ke judul penelitian.

  1. Kondisi ideal (das sollen). Apa yang seharusnya terjadi menurut undang-undang, kurikulum, atau teori.
  2. Kondisi nyata (das sein). Apa yang benar-benar terjadi. Dukung dengan data: hasil asesmen nasional/internasional, nilai ulangan, hasil observasi, atau wawancara pra-penelitian.
  3. Kesenjangan. Tunjukkan dengan tegas selisih antara ideal dan nyata. Inilah masalah penelitian Anda.
  4. Penyebab dan solusi. Jelaskan dugaan penyebab masalah, lalu tawarkan solusi yang didukung teori dan penelitian terdahulu.
  5. Mengarah ke judul. Tutup dengan kalimat yang menyatakan perlunya penelitian, diakhiri dengan judul.

Panjang latar belakang skripsi biasanya 3–6 halaman. Setiap paragraf sebaiknya memuat satu gagasan utama dan terhubung dengan paragraf berikutnya.

3. Cara menyusun subbab lainnya

Identifikasi masalah

Tuliskan semua masalah yang sudah Anda sebutkan di latar belakang dalam bentuk poin. Jangan memunculkan masalah baru yang tidak pernah dibahas sebelumnya.

Batasan masalah

Tidak semua masalah bisa diteliti sekaligus. Batasi variabel, subjek, tempat, materi, dan waktu penelitian supaya fokus dan bisa diselesaikan.

Rumusan masalah

Ubah masalah yang dibatasi menjadi kalimat tanya. Rumusan masalah kuantitatif harus bisa dijawab dengan data, jelas variabelnya, dan biasanya diawali dengan "Bagaimana...", "Apakah terdapat...", atau "Seberapa besar...".

Tujuan penelitian

Tujuan adalah cermin dari rumusan masalah. Jumlah dan urutannya harus sama. Ganti kata tanya dengan kata kerja seperti "mengetahui", "mendeskripsikan", atau "menganalisis".

Manfaat penelitian

Bagi menjadi dua: manfaat teoretis (untuk ilmu pengetahuan) dan manfaat praktis (untuk siswa, guru, sekolah, dan peneliti lain). Tulis manfaat yang spesifik, bukan kalimat umum yang bisa ditempel ke skripsi mana pun.

Sistematika penulisan

Satu paragraf pendek untuk setiap bab, menjelaskan isi bab tersebut.

4. Contoh Bab I lengkap

Penting: Data SD Negeri X dalam contoh ini adalah data fiktif untuk keperluan belajar. Di skripsi Anda, gunakan data asli dari sekolah tempat penelitian. Bagian dalam tanda [kurung siku] adalah tempat Anda memasukkan penelitian terdahulu yang benar-benar Anda baca. Data PISA dan dasar hukum di bawah adalah data nyata, tetapi tetap periksa ulang ke sumber aslinya sebelum dikutip.

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya, sebagaimana dinyatakan dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 1 ayat 1. Rumusan tersebut menegaskan bahwa pembelajaran yang baik menempatkan siswa sebagai pihak yang aktif, bukan sekadar penerima informasi.

Dalam Kurikulum Merdeka, mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Ilmu Pengetahuan Sosial di sekolah dasar dipadukan menjadi Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS). Melalui IPAS, siswa diharapkan mampu memahami lingkungan alam dan sosial di sekitarnya, menyelidiki fenomena, serta menggunakan pemahaman itu untuk memecahkan masalah sehari-hari. Banyak materi IPAS berkaitan dengan proses yang tidak dapat diamati secara langsung di dalam kelas, sehingga siswa membutuhkan bantuan visual untuk memahaminya.

Kenyataannya, kemampuan sains siswa Indonesia masih rendah. Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 menunjukkan skor sains siswa Indonesia sebesar 383, turun 13 poin dibandingkan PISA 2018. Hanya sekitar 34% siswa Indonesia yang mencapai setidaknya level 2 kemahiran sains, jauh di bawah rata-rata negara OECD yang sekitar 76% (OECD, 2023). Meskipun PISA mengukur siswa usia 15 tahun, kemampuan tersebut dibangun sejak jenjang sekolah dasar.

Kondisi serupa ditemukan di SD Negeri X. Berdasarkan dokumen nilai ulangan harian IPAS semester ganjil tahun ajaran [2025/2026], rata-rata nilai siswa kelas V-A adalah 63,4 dan kelas V-B adalah 64,1, sedangkan Kriteria Ketercapaian Tujuan Pembelajaran (KKTP) yang ditetapkan sekolah adalah 70. Dari 56 siswa kelas V, sebanyak 35 siswa (62,5%) belum mencapai KKTP. Hasil observasi pra-penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran IPAS masih didominasi ceramah dan membaca buku siswa. Media yang digunakan terbatas pada gambar di buku, sehingga siswa kesulitan membayangkan proses yang dijelaskan. Wawancara dengan wali kelas V juga mengungkapkan bahwa siswa cepat kehilangan fokus ketika materi disampaikan secara verbal dalam waktu lama.

Kesenjangan antara harapan kurikulum dan kenyataan tersebut perlu segera diatasi. Salah satu penyebab yang dapat diidentifikasi adalah media pembelajaran yang belum mampu menyajikan konsep abstrak secara konkret dan menarik. Mayer (2009) dalam teori pembelajaran multimedia menyatakan bahwa siswa belajar lebih baik dari kombinasi kata dan gambar dibandingkan dari kata saja. Video animasi menggabungkan narasi, teks, gambar bergerak, dan suara sehingga dapat memvisualkan proses yang sulit diamati secara langsung, sekaligus menarik perhatian siswa usia sekolah dasar.

Beberapa penelitian terdahulu mendukung hal tersebut. [Nama peneliti (tahun)] menemukan bahwa [ringkasan temuan tentang video animasi dan hasil belajar]. [Nama peneliti (tahun)] juga melaporkan bahwa [ringkasan temuan]. Namun, penelitian-penelitian tersebut [dilakukan pada mata pelajaran/jenjang/kurikulum yang berbeda]. Penelitian tentang penggunaan video animasi pada mata pelajaran IPAS dalam Kurikulum Merdeka, khususnya di kelas V sekolah dasar, masih terbatas, dan belum pernah dilakukan di SD Negeri X.

Berdasarkan uraian tersebut, peneliti tertarik melakukan penelitian berjudul "Pengaruh Media Pembelajaran Video Animasi terhadap Hasil Belajar IPAS Siswa Kelas V Sekolah Dasar".

1.2 Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, masalah yang dapat diidentifikasi adalah:

  1. Kemampuan sains siswa Indonesia masih rendah berdasarkan hasil PISA 2022.
  2. Sebanyak 62,5% siswa kelas V SD Negeri X belum mencapai KKTP pada mata pelajaran IPAS.
  3. Pembelajaran IPAS masih didominasi metode ceramah dan membaca buku siswa.
  4. Media pembelajaran yang digunakan terbatas pada gambar di buku sehingga siswa kesulitan memahami proses yang abstrak.
  5. Siswa cepat kehilangan fokus ketika materi disampaikan secara verbal dalam waktu lama.

1.3 Batasan Masalah

Agar penelitian lebih terarah, masalah dibatasi sebagai berikut:

  1. Media pembelajaran yang digunakan adalah video animasi yang dipilih atau disusun peneliti sesuai tujuan pembelajaran.
  2. Hasil belajar yang diukur adalah hasil belajar ranah kognitif pada level mengingat (C1) sampai menganalisis (C4).
  3. Materi yang digunakan adalah [nama bab/topik IPAS kelas V semester genap sesuai jadwal sekolah].
  4. Subjek penelitian adalah siswa kelas V-A dan V-B SD Negeri X tahun ajaran [2025/2026].

1.4 Rumusan Masalah

  1. Bagaimana hasil belajar IPAS siswa kelas V yang menggunakan media pembelajaran video animasi?
  2. Bagaimana hasil belajar IPAS siswa kelas V yang tidak menggunakan media pembelajaran video animasi?
  3. Apakah terdapat pengaruh media pembelajaran video animasi terhadap hasil belajar IPAS siswa kelas V SD Negeri X?

1.5 Tujuan Penelitian

  1. Untuk mengetahui hasil belajar IPAS siswa kelas V yang menggunakan media pembelajaran video animasi.
  2. Untuk mengetahui hasil belajar IPAS siswa kelas V yang tidak menggunakan media pembelajaran video animasi.
  3. Untuk menganalisis pengaruh media pembelajaran video animasi terhadap hasil belajar IPAS siswa kelas V SD Negeri X.

1.6 Manfaat Penelitian

a. Manfaat teoretis

Penelitian ini diharapkan memperkaya kajian tentang penerapan teori pembelajaran multimedia pada mata pelajaran IPAS dalam Kurikulum Merdeka, serta menjadi rujukan bagi penelitian sejenis.

b. Manfaat praktis

  1. Bagi siswa: membantu memahami materi IPAS yang abstrak melalui tayangan yang konkret dan menarik.
  2. Bagi guru: memberikan alternatif media yang terbukti efektif beserta langkah penggunaannya di kelas.
  3. Bagi sekolah: menjadi bahan pertimbangan dalam penyediaan sarana dan pelatihan pembuatan media digital.
  4. Bagi peneliti selanjutnya: menjadi acuan untuk meneliti video animasi pada materi, jenjang, atau variabel lain.

1.7 Sistematika Penulisan

Bab I Pendahuluan berisi latar belakang masalah, identifikasi masalah, batasan masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan sistematika penulisan.

Bab II Kajian Pustaka berisi landasan teori tentang media pembelajaran, video animasi, hasil belajar, dan pembelajaran IPAS, penelitian yang relevan, kerangka berpikir, serta hipotesis penelitian.

Bab III Metode Penelitian berisi jenis dan desain penelitian, tempat dan waktu, populasi dan sampel, variabel, instrumen, uji instrumen, prosedur penelitian, serta teknik analisis data.

Bab IV Hasil dan Pembahasan berisi deskripsi data, hasil uji prasyarat, hasil uji hipotesis, dan pembahasan temuan penelitian.

Bab V Penutup berisi kesimpulan dan saran.

Jika kampus meminta Definisi Operasional, tambahkan subbab seperti ini:
1. Media pembelajaran video animasi adalah tayangan berdurasi sekitar 5–10 menit yang memadukan gambar bergerak, narasi, dan teks untuk menjelaskan materi IPAS, diputar di awal kegiatan inti dan dilanjutkan dengan diskusi.
2. Hasil belajar IPAS adalah skor yang diperoleh siswa dari tes pilihan ganda materi [nama materi] pada ranah kognitif C1–C4, diukur melalui pretest dan posttest.

5. Daftar periksa sebelum Bab I diserahkan

  • Latar belakang mengikuti alur corong: ideal, nyata, kesenjangan, solusi, judul.
  • Ada data lapangan, bukan hanya teori.
  • Setiap kutipan dicantumkan sumbernya dan dimasukkan ke daftar pustaka (gunakan Mendeley agar rapi).
  • Identifikasi masalah hanya memuat masalah yang ada di latar belakang.
  • Variabel di judul, rumusan masalah, dan tujuan memakai istilah yang sama.
  • Jumlah rumusan masalah sama dengan jumlah tujuan.
  • Manfaat ditulis spesifik untuk penelitian ini.
  • Format penulisan (huruf, spasi, margin, penomoran) sesuai pedoman kampus.

Ringkasan

  1. Bab I menjawab pertanyaan: mengapa penelitian ini penting dan apa yang ingin dijawab.
  2. Tulis latar belakang dengan teknik corong dan dukung dengan data nyata.
  3. Identifikasi, batasan, dan rumusan masalah harus menyempit secara berurutan.
  4. Rumusan masalah dan tujuan harus selaras satu per satu.

Sumber yang dikutip dalam contoh:

  • Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
  • Mayer, R. E. (2009). Multimedia Learning (2nd ed.). Cambridge University Press.
  • OECD. (2023). PISA 2022 Results (Volume I): The State of Learning and Equity in Education. OECD Publishing.

Di Seri Skripsi bagian 4, kita lanjutkan ke Bab II Kajian Pustaka: cara mencari teori, menulis penelitian yang relevan, menyusun kerangka berpikir, dan merumuskan hipotesis untuk judul yang sama.

Bermanfaat? Bagikan ke rekan Anda:

Rasin, S.Kom., M.M.

Praktisi IT & manajemen pendidikan. Menulis tentang transformasi digital dan kepemimpinan.

Komentar

Posting Komentar